Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in

ARSIP

Tampilkan postingan dengan label Penghargaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penghargaan. Tampilkan semua postingan

KLUB-KLUB YANG PERNAH MENJUARAI LIGA CHAMPIONS

Minggu, 26 Mei 2013


Liga Champions adalah kejuaraan yang mempertemukan klub-klub juara dan beberapa klub di bawahnya dari kompetisi di Negara di benua biru, Eropa. Kejuaraan ini sangat dinanti-nanti oleh penikmat sepakbola di seluruh dunia. Berikut kilas balik klub-klub yang menjuarai Liga Champions dari kompetisi ini bergulir




SEJARAH PIALA WINNERS

Minggu, 30 Desember 2012


UEFA Cup Winners' Cup adalah kompetisi sepak bola antar klub yang diikuti oleh para pemenang piala domestik di Eropa. Kompetisi ini pertama kali diadakan oleh panitia penyelenggara Mitropa Cup pada musim kompetisi 1960 - 1961 namun baru diakui oleh UEFA dua tahun kemudian, Piala Winners harus berakhir di musim 1998 - 1999 ketika UEFA memutuskan untuk menggabungkan kompetisi ini dengan Piala UEFA.

Sebelum penghapusannya, Piala Winners dianggap sebagai kompetisi paling bergengsi setelah Piala Champions dan diatas Piala UEFA, meskipun banyak komentator sepak bola menilai bahwa Piala Winners relatif lebih mudah untuk dimenangkan dibandingkan dua kompetisi mayor UEFA lainnya namun pada kenyataannya tak ada satupun klub yang mampu mempertahankan gelar Piala Winners mereka, termasuk klub-klub besar Eropa seperti FC Barcelona, Arsenal, AC Milan dan Manchester United.

Sejak tahun 1972 Juara Piala Winners dan Juara Piala Champions diadu untuk memperebutkan gelar Piala Super Eropa, kini hak untuk bertanding di Piala Super Eropa diberikan kepada juara Europa League (dulu disebut UEFA Cup).


Sejarah Piala Winners
Sukses yang diraih oleh Piala Champions Eropa dan Piala Fairs mengundang pemikiran tentang Suatu turnamen baru dengan format berdasarkan format Piala Champions namun dengan peserta para juara piala nasional.

Penyelanggaraan Piala Winners perdana di musim 1960 - 1961 tidak disambut antusias oleh klub top Eropa karena dua alasan ; pertama karena pada saat itu tidak semua negara Eropa memiliki kompetisi piala domestik, kedua karena pada dasarnya piala domestik kurang bergengsi jika dibandingkan dengan liga.

Banyak yang skeptis tentang kelanjutan kompetisi ini karena banyak klub besar yang memenuhi syarat, menolak untuk ikut serta diantaranya juara Copa del Rey, Atlético Madrid dan Juara Coupe de France AS Monaco.

Fiorentina Menjuarai Winners Cup Edisi Pertama

Akhirnya turnamen perdana hanya diikuti 10 klub tetapi setiap pertandingan umumnya ditonton dan direspon baik oleh masyarakat dan media. Sehingga dimusim kedua UEFA mengambil alih pengelolaan semua aspek kompetisi dan hasilnya semua klub yang memenuhi syarat bersedia untuk berpartisipasi di Piala Winners.

Sejak tahun 1968, semua negara anggota UEFA telah memiliki kompetisi piala domestik sendiri, hal ini semakin memantapkan posisi Piala Winners sebagai kompetisi antar klub paling bergengsi kedua di Eropa.

Bubarnya Piala Winners Eropa
Setelah pembentukan Liga Champions (sebelumnya disebut Piala Champion) pada awal 1990an, gengsi Piala Winners mulai menurun.

Apalagi sejak tahun 1997 UEFA memberikan jatah lebih bagi negara-negara kuat untuk tampil di Liga Champions.

Bersamaan dengan penambahan peserta Liga Champions, UEFA juga menambah peserta Piala Winners dari 32 menjadi 64 namun hal ini tidak mampu mendongkrak gengsi Piala Winners. Banyak tim besar yang menurut regulasi lama harusnya berkompetisi di Piala Winners sejak berlakunya regulasi baru berhak tampil di Liga Champions.

Sehingga di setiap musimnya Piala Winners hanya diikuti satu atau dua tim besar saja, hal ini membuat respon masyarakat semakin berkurang dan memaksa UEFA untuk mereformasi kompetisi mereka dengan cara menggabungkan Piala Winners dan Piala UEFA.

Data & Fakta Piala Winners:
Didirikan | 1960
Dihapus | 1999
Benua | Eropa (UEFA)
Peserta | 32 (putaran pertama)
Juara edisi pertama | Fiorentina - Italia
Juara edisi terakhir | Lazio - Italia
Klub tersukses FC | Barcelona ( 4 gelar )

SEJARAH TROFI JULES RIMET



Pada 1946, trofi Piala Dunia pada mulanya dinamai dengan sebutan Jules Rimet, diambil dari nama mantan presiden FIFA, Jules Rimet yang berperan dalam menggelar turnamen Piala Dunia pertama. Trofi tersebut diberikan kepada tim pemenang, tapi hanya tim yang sudah tiga kali juara bisa membawa pulang trofi tersebut secara permanen.

Jules Rimet

Trofi ini dibuat oleh seniman Prancis, Abel Lafleur. Trofi ini melambangkan sayap kemenangan. Memiliki berat 1,82 kg dan tinggi 30 cm, trofi ini dibuat dari emas murni. Piala Jules Rimet berbentuk patung emas sebesar botol dengan logo wanita yang melambangkan sayap. Dibawah trofi ini terdapat daftar pemenang piala dunia. Semasa perang dunia ke-2 piala ini disimpan oleh Presiden Fifa saat itu,yaitu Ottorino Barassi. Dia menyimpan piala itu dibawah ranjangnya di Italia agar tidak dicuri.

Abel Lafleur

Brasil adalah negara pertama yang berhasil tiga kali juara Piala Dunia, memenangi gelar ketiganya pada 1970 sehingga berhak atas trofi tersebut secara permanen. Sejak itu, Italia dan Jerman Barat juga mendapat trofi secara permanen. Namun pada 20 Desember 1983, trofi Jules Rimet dicuri dari markas Asosiasi Sepak Bola Brasil di Rio. Hingga kini, trofi tersebut tak ditemukan.

Hanya saja, rupanya itu bukan kali pertama trofi yang berukirkan figur dewi kemenangan Yunani, Nike, itu hilang dicuri. Pada 1966, jelang turnamen Piala Dunia dimulai di Inggris, trofi Jules Rimet juga lenyap. Beruntung, seekor anjing bernama Pickles menemukan trofi tersebut di bawah pagar taman. Pemilik anjing itu pun dihadiahi 6.000 pounds sebagai hadiah.

Anjing Pickles

Namun, pada kali kedua trofi Jules Rimet dicuri, piala dengan tinggi 35 cm dan berat 3,8 kg itu tak pernah lagi kembali. Untuk menggantikan trofi yang hilang, akhirnya Eastman Kodak membuat replika trofi tersebut dengan menggunakan 1,8 kg emas.

TROFI DFB POKAL, TROFI YANG BERTAMBAH TINGGI

Jumat, 09 November 2012



Jika ada trofi yang mampu tumbuh lebih tinggi sebanyak dua kali, trofi DFB Pokal atau yang sering disebut Pott pastilah salah satunya. Trofi yang dibuat pada 1964 oleh Wilhelm Nagel ini aslinya hanya punya tinggi 47 cm. Namun, saat ini tingginya mencapai 52,4 cm.

Pertambahan tinggi trofi yang dibuat dari 250 gram emas murni ini terjadi pada 1991. Kala itu, DFB memutuskan untuk menambah dasar trofi setinggi 5 cm. Pertimbangannya, dasar trofi tak lagi mampu memuat tahun dan nama tim juara. Dengan penambahan tersebut, trofi yang pengerjaannya menghabiskan waktu setahun itu akan mampu memuat tahun dan nama juara hingga 2020.

Nah, yang unik adalah penambahan tinggi sebanyak 4 mm sisanya. Pertambahan tinggi Pott yang kedua ini terjadi akibat kecerobohan Rudi Assauer, Manajer FC Schalke 04 yang menjatuhkan Pott saat merayakan kemenangan timnya pada 2001-02. Akibatnya, enam dari total 42 batu kristal dan body Pott pun rusak.

Sebagai konsekuensi, DFB lantas menyuruh Schalke menyerahkan Pott kepada Nagel untuk direparasi. Tak tanggung-tanggung, biaya perbaikannya mencapai 32 ribu euro. Seperti sudah diduga, biaya perbaikan tersebut dibebankan kepada The Royal Blues. Nah, gara-gara perbaikan tersebut, tinggi Pott bertambah 4 mm.

Hal yang menarik, biaya perbaikan Pott ternyata lebih dari sepertiga estimasi harga materialnya yang mencapai 100 ribu euro. Meski demikian, sebenarnya nilai Pott lebih dari itu mengingat DFB Pokal adalah ajang bergengsi kedua di Jerman. Trofi ini hanya kalah gengsi dari Die Meisterschale, trofi juara Bundesliga 1.

Sekadar info, Pott adalah trofi pengganti Goldfasanen Pokal yang sebelumnya diperebutkan antara 1935-1943 dalam ajang yang diberi nama Tschammerpokal –diambil dari nama menteri olahraga zaman NAZI, Hans von Tschammer und Osten. Penggantian dilakukan atas inisiatif Dr. Peco Bauwens, Presiden DFB waktu itu, yang ingin menghilangkan aroma NAZI.

TROFI TERTUA YANG MASIH ADA



Piala FA Inggris yang pertama kali digelar musim 1871-72 memang tercatat sebagai turnamen tertua di dunia. Namun, berbicara soal usia trofi yang saat ini diperebutkan, Piala FA ternyata bukanlah yang tertua. Pasalnya, trofi asli Piala FA sudah raib pada 1895. Trofi yang sekarang diperebutkan adalah trofi keempat alias replika ketiga dan mulai diperebutkan pada 1992.

Adapun trofi tertua yang hingga saat ini masih ada dan diperebutkan adalah Piala Skotlandia yang pertama kali diperebutkan pada musim 1873-74. Trofinya sendiri dibeli dari sumbangan klub-klub atas surat permohonan Queen’s Park kepada Asosiasi Sepak Bola Skotlandia (SFA). Surat tersebut intinya meminta SFA untuk menarik satu pound dari setiap klub guna membeli trofi yang nantinya mereka perebutkan.

Uniknya, Queen’s Park sendiri yang pertama kali merengkuh trofi tersebut. Pada partai final yang disaksikan 3.000 penonton, mereka mengalahkan Clydesdale dengan skor 2-0. Hingga saat ini, para juara akan menerima trofi asli, namun hanya akan membawa pulang replikanya yang dibuat sama persis dengan trofi aslinya.

Sepanjang penyelenggaraan, hanya satu kali trofi Piala Skotlandia tak diserahkan kepada sang juara. Itu terjadi pada 1909. Kala itu, Glasgow Celtic dan Glasgow Rangers bertemu di final. Pada pertemuan pertama, pertandingan berakhir 2-2 sehingga dilakukan partai replay.

Sebelum partai replay itu, ada isu yang beredar bahwa SFA sebenarnya telah mengatur skor agar meraup banyak uang dari partai replay. Ini lantas menyulut amarah para fans kedua klub saat partai replay final dilangsungkan pada 17 April.

Saat hasil akhir menunjukkan angka 1-1 dan panitia mengumumkan tak ada perpanjangan waktu, para fans membanjiri lapangan dan merusak gawang. Mereka menguasai lapangan hingga 2,5 jam lamanya.

Celtic dan Rangers mengajukan petisi kepada SFA agar partai tersebut dibatalkan. Trofi dan medali pun tak diserahkan. Sebagai kompensasi, SFA memberikan uang 150 pounds bagi kedua kubu masing-masing sementara Queen’s Park mendapat 500 pounds sebagai kompensasi kerusakan lapangan yang terjadi.

SEJARAH PENGHARGAAN HERMANN TROPHY



AS memang bukan negara terkemuka di sepak bola. Namun, jangan salah, negeri ini ternyata punya perhatian besar kepada olahraga yang satu ini. Ingin tahu buktinya? Sejak 1967, di negeri ini ada penghargaan khusus yang diberikan kepada para pebola yang bergelut di kancah Liga Mahasiswa. Namanya Hermann Trophy.

Penghargaan tersebut diberikan oleh Yayasan The Hermann Trophy yang pada 2002 menjalin kerjasama dengan Missouri Athletic Club. Pada awalnya penghargaan ini hanya diberikan kepada para pebola putra. Nah, sejak 1988, seiring makin berkembangnya sepak bola putri di AS, Hermann Trophy diberikan pula kepada para pebola putri yang berprestasi.

Hermann Trophy sendiri pada dasarnya mengambil ide dari Heisman Trophy, penghargaan untuk atlet american football terbaik di level mahasiswa yang diberikan sejak 1935. Hermann Trophy terbukti mampu melecut para pebola muda AS. Buktinya, beberapa penerima penghargaan ini muncul sebagai bintang sepak bola AS. Di antara mereka adalah Kristine Lily, Mia Hamm, Shannon MacMillan, Claudio Reyna, Alexi Lalas, Tony Meola dan Johnny Torres.

Johnny Torres

Prosedur pemilihan pemain terbaik yang akan menerima trofi ini dilakukan melalui voting yang melibatkan para anggota Soccer Coaches Association of America. Penganugerahannya sendiri dilakukan setiap awal tahun, tepatnya Januari, di markas Missouri Athletic Club yang terletak di St. Louis.

Nama Hermann sendiri diambil dari tokoh sepak bola ternama AS, Bob Hermann. Dia adalah presiden pertama National Professional Soccer League (NPSL) yang didirikan pada Juni 1966 dan menggulirkan liga profesional bernama North American Soccer League (NASL) setahun kemudian dengan menggandeng United Soccer Association yang tadinya berseberangan.

Hermann pula yang sangat berperan mendatangkan bintang-bintang besar macam Pele, Franz Beckenbauer, dan Johan Cruyff, ke NASL. Lebih dari itu, dia pun tercatat sebagai pemilik St. Louis Stars dan California Surf yang berkiprah pada musim 1980. Sederet bukti eksistensi di sepak bola AS itu membuatnya masuk ke dalam National Soccer Hall of Fame pada 2001. 

SEJARAH PENGHARGAAN EBBENHOUTEN SCHOEN

Senin, 05 November 2012


Di sepak bola, Belgia memang punya ikatan kuat dengan Afrika. Negeri ini dikenal sebagai gerbang pertama para pebola Afrika yang mengadu nasib di Eropa. Banyak bintang sepakbola Afrika yang memulai kiprah gemilangnya di negeri ini. Sebut saja Victor Ikpeba, Samson Siasia, Celestine Babayaro, dan Daniel Amokachi.

Saking kentalnya hubungan Belgia dengan Afrika, di Jupiler League sejak 1992 ada penghargaan khusus yang diberikan kepada pemain berdarah Afrika. Namanya Ebbenhouten Schoen. Penerima penghargaan tahunan ini ditentukan oleh dewan juri yang terdiri dari para pelatih klub anggota Jupiler League, pelatih timnas Belgia, para jurnalis olahraga, dan beberapa juri kehormatan.

Pemain pertama yang berhasil menggondol trofi ini adalah Daniel Amokachi, striker bertenaga kuda asal Nigeria yang kala itu membela Club Brugge. Dalam kurun empat tahun kemudian, para pemain Nigeria selalu mendominasi.

Daniel Amokachi

Baru pada 1997 dominasi Nigeria runtuh ketika striker timnas Belgia, Emile Mpenza, terpilih sebagai pemain berdarah Afrika terbaik. Uniknya, Mpenza menjadi pemain non-Afrika pertama yang meraih penghargaan ini. Darah Kongo dalam dirinyalah yang membuatnya bisa merebut Ebbenhouten Schoen.

Tahun lalu, gelar pemain berdarah Afrika terbaik di Belgia itu jatuh ke tangan midfielder AA Gent, Moubarak Boussoufa. Dia menjadi pemain Afrika Utara kedua yang meraih gelar ini setelah Ahmed Hossam Mido pada 2001. Uniknya, Mido juga merebutnya kala berada membela panji Gent.

Daftar Peraih Ebbenhouten Schoen:
1992 Daniel Amokachi (Nigeria/Club Brugge)
1993 Victor Ikpeba (Nigeria/RFC Liege)
1994 Daniel Amokachi (Nigeria/Club Brugge)
1995 Godwin Okpara (Nigeria/Eendracht Aalst)
1996 Celestine Babayaro (Nigeria/Anderlecht)
1997 Emile Mpenza (Belgia/Mouscron)
1998 Eric Addo (Ghana/Club Brugge)
1999 Souleymane Oulare (Guinea/Genk)
2000 Herve Nzelo-Lembi (Kongo/Club Brugge)
2001 Ahmed Hossam (Mesir/AA Gent)
2002 Moumouni Dagano (Burkina Faso/Genk)
2003 Aruna Dindane (Pantai Gading/Anderlecht)
2004 Vincent Kompany (Belgia/Anderlecht)
2005 Vincent Kompany (Belgia/Anderlecht)
2006 Moubarak Boussoufa (Maroko/AA Gent)
2007 Mohammed Tchité (Burundi/Anderlecht)
2008 Marouane Fellaini (Belgia/Standard Luik)
2009 Mbark Boussoufa (Belanda/Anderlecht)
2010 Mbark Boussoufa (Belanda/Anderlecht)
2011 Romelu Lukaku (Belgia/Anderlecht)
2012 Dieumerci Mbokani (Kongo/Anderlecht)

SEJARAH BIDONE D'ORO

Rabu, 17 Oktober 2012



Penghargaan biasanya diberikan kepada pemain terbaik atau pemain yang berprestasi. Namun, di Italia, ada penghargaan yang justru diberikan kepada pemain yang dianggap tidak memiliki kontribusi alias paling tak berguna bagi klubnya. Penghargaan tersebut dinamakan Bidone d’Oro dan dibuat sebagai “tandingan” bagi Pallone d’Oro-nya France Football.


Dalam bahasa Italia, Bidone berarti “tempat sampah”. Alhasil, secara sarkastis, Bidone d’Oro sama saja dengan penghargaan bagi pemain yang paling tak berguna. Penghargaan ini digelar oleh Radio 2 Italia dalam acara olahraganya, Catersport.

Penghargaan ini diberikan sejak 2003 dengan melibatkan poling pendengar melalui telepon, internet, dan SMS. Caranya, para responden memilih satu dari 50 nama yang telah ditentukan sebelumnya oleh sebuah panel yang terdiri dari para jurnalis dan pakar sepak bola.

Uniknya, Bidone d’Oro seperti membawa tulah bagi para pemenangnya. Fakta membuktikan, sejak pertama diadakan, sang pemenang biasanya makin terpuruk, bahkan ada yang kemudian hilang dari orbit Serie-A.
  
Daftar Pemenang Bidone d’Oro:
2003: Rivaldo (AC Milan)
2004: Nicola Legrottaglie (Juventus)
2005: Christian Vieri (AC Milan)
2006: Adriano (Inter Milan)
2007: Adriano (Inter Milan)
2008: Ricardo Quaresma (Inter Milan)
2009: Felipe Melo (Juventus)
2010: Adriano (AS Roma)
2011: Diego Milito (Inter Milan)

SEJARAH PENGHARGAAN TORJAEGERKANONE

Sabtu, 13 Oktober 2012



Sejak musim ketiga Bundesliga 1, tepatnya musim 1965-66, pencetak gol terbanyak di kompetisi elite Jerman itu mendapat trofi khusus dari majalah olahraga Kicker. Penghargaan bagi sang top skorer itu digagas oleh Karl Heinz Jens yang waktu itu menjabat redaktur di majalah tersebut.

Bentuk trofinya sendiri agak unik, berupa replica meriam yang terbuat dari logam dengan beberapa bagian terbuat dari kayu, mirip dengan meriam asli. Oleh karena bentuknya itulah trofi tersebut lantas dinamakan Torjaegerkanone alias meriam untuk sang pencetak gol terbanyak.

Sejak pertama kali diperkenalkan, bentuk trofi ini mengalami  perubahan-perubahan kecil. Kini Torjaegerkanone memiliki berat 3,2 kg dengan alas berupa lempengan kayu berukuran 43x22 cm. Moncong meriamnya sendiri memilki panjang 26 cm.

Orang pertama yang berhasil meraih trofi ini adalah Lothar Emmerich yang musim itu membukukan 31 gol bagi Borussia Dortmund. Sementara Gerd Mueller tercatat sebagai pemain yang mengoleksi paling banyak Torjaegerkanone. Striker kenamaan Bayern Muenchen itu pernah menerimannya sebanyak tujuh kali.

Gerd Mueller

Meski meraihnya tujuh kali, Mueller hanya melakukannya bersama Bayern Muenchen. Ini berbeda dengan Klaus Allofs dan Stefan Kuntz yang mampu meraih Torjaegerkanone bersama dua klub berbeda. Allofs meraihnya bersama Fortuna Duesseldorf pada 1978-79 dan FC Koeln pada 1984-85. Sementara Kuntz bersama VfL Bochum pada 1985-86 dan Kaiserslautern pada 1993-94.

Uniknya, ada satu pemain yang menjadi top skorer Bundesliga 1 namun tak mendapatkan trofi kebanggaan tersebut. Dialah Lothar Kobluhn yang pada musim 1970-71 mengemas 31 gol bagi Rot-Weiss Oberhausen.

Ditengarai, hal itu disebabkan oleh adanya penyelidikan menyangkut skandal yang terjadi di Bundesliga 1 pada waktu itu. Rot-Weiss Oberhausen diduga terlibat skandal tersebut. Ironisnya, meski kemudian tak terbukti terlibat, pihak Kicker tak jua memberikan Torjaegerkanone kepada Kobluhn.

SEJARAH TROFI RICARDO ZAMORA



Di Spanyol, ada tradisi pemilihan penjaga gawang terbaik dengan cara menghitung rasio gol kemasukan yang dialami semua kiper di Divisi Primera. Kiper dengan rasio kemasukan terkecil menjadi yang terbaik dan berhak menggondol Trofi Ricardo Zamora. Trofi ini sendiri disediakan oleh harian olahraga Marca dan baru diperebutkan pada 1958-59. Khusus antara musim 1970-71 dan 1972-73, Marca juga menyediakan Zamora untuk kiper yang paling sedikit kebobolan.

Ricardo Zamora

Nama Zamora diambil sebagai penghormatan terhadap kiper legendaries Spanyol era 1930-an, Ricardo Zamora. Pemain pertama yang menggondol trofi ini adalah Antonio Ramallets (Barcelona). Sementara kiper yang paling sering menerima trofi ini adalah Victor Valdes (2003-04, 2008-09, 2009-10, 2010-11 dan 2011-12 bersama Barcelona).

Sedangkan rasio kebobolan terkecil hingga saat ini masih dipegang Victor Valdes (Barcelona) pada musim 2010-11. Saat itu, dia hanya kebobolan 16 gol dalam 32 partai yang dilakoninya.

Peraturan yang diterapkan (sejak 1983):
1.      Seorang kiper harus tampil sekurang-kurangnya 28 partai dalam satu musim.
2.      Jumlah partai yang di hitung adalah yang dilakoni tak kurang dari 60 menit.
3.      Penghitungan dilakukan dengan cara membagi jumlah gol kemasukan yang diderita sang kiper (baik dalam partai yang dijalani lebih dari 60 menit maupun kurang dari itu) dibagi jumlah partai yang dilakoni 60 menit atau lebih.
4.      Kiper dengan rasio terkecil (dalam dua desimal) akan dinobatkan sebagai peraih trofi. Jika ada lebih dari satu  kiper yang memiliki rasio sama, maka trofi akan diberikan kepada mereka masing-masing.

HERBERT CHAPMAN, MANAGER TERBAIK LIGA INGGRIS

Minggu, 30 September 2012



Siapa manager terbaik di Premier League sepanjang masa? Alex Ferguson? Bukan. Setidaknya, menurut versi online harian The Observer, Sir Alex yang menjulang bersama Manchester United masih dianggap kalah pamor dibandingkan dengan Herbert Chapman.

Chapman menjadi legendaries berkat prestasinya saat menangani Huddersfield dan Arsenal di tahun 20-an dan 30-an. Dia punya andil besar saat Huddersfield tiga kali juara Liga Inggris berturut-turut antara tahun 1924-26. Begitu pula dengan Arsenal  antara tahun 1933-35. Chapman meninggal pada tahun 1934, musim terakhirnya bersama The Gunners yang akhirnya berbuah gelar juara.

10 Manager Terbaik Liga Inggris versi The Observer
        1.      Herbert Chapman
        2.      Alex Ferguson
        3.      Bob Paisley
        4.      Jock Stein
        5.      Matt Busby
        6.      Bill Shankly
        7.      Brian Clough
        8.      Bill Nicholson
        9.      Stan Cullis
        10.  Alf Ramsey

REKOR OLIVER KHAN DI DFB POKAL

Sabtu, 29 September 2012



Kemenangan Bayern Muenchen atas Borussia Dortmund di final DFB Pokal, Sabtu ( 19/04/08) memiliki makna special bagi Oliver Kahn. Pada partai tersebut, dia menorehkan beberapa rekor yang kian mengukuhkan dirinya sebagai salah satu legenda Bayern. Karl Heinz Rummenigge bahkan mengakui Kahn sebagai pemain paling penting dalam dua dekade terakhir. Berikut Rekor Oliver Khan di DFB Pokal.

6 Gelar
Gelar juara DFB Pokal 2007-08 merupakan yang keenam bagi Kahn. Itu menjadikannya sebgai pemain dengan koleksi pott terbanyak. Dia unggul atas dua eks penggawa Bayern Muenchen, Bixente Lizarazu dan Mehmet Scholl, yang hanya mengoleksi 5 pott.

4 Double
Dalam kiprahnya di Bundesliga 1, bersama dengan Lizarazu dan Scholl, Kahn adalah pemegang rekor dalam mengawinkan gelar DFB Pokal dengan Bundesliga 1. Ketiganya melakukan hal tersebut sebanyak empat kali

7 Final
Sepanjang karirnya, Kahn berhasil menembus fibal DFB Pokal sebanyak tujuh kali, semuanya bersama Bayern. Dari tujuh kesempatan itu, dia hanya sekali gagal mengantar Bayern juara, yakni pada musim 1998-99. Kala itu, Bayern kalah adu penalti dari Werder Bremen.

67 Penampilan
Laga versus Dortmund pada Final DFB Pokal musim 2007-08 merupakan penampilan terakhir Kahn di DFB Pokal karena dirinya pensiun pada akhir musim 2007-08.  Total, di DFB Pokal dia tampil sebanyak 67 kali. Rinciannya, 57 kali bersama Bayern dan 10 kali bersama Karlsruher SC. Khusus di Bayern, dia hanya kalah dari Sepp Maier dan Gerd Mueller (63 penampilan) dan Franz Beckenbauer (60 penampilan).

KLUB YANG MENERIMA BADGE OF HONOUR

Jumat, 14 September 2012


Real Madrid
Tidak dapat dipungkiri, inilah klub tersukses dalam sejarah penyelenggaraan Liga Champions. Klub raksasa asal Spanyol ini mencatat rekor yang sangat mengesankan, sembilan kali juara. Hingga kini rekor tersebut masih dipegang oleh klub yang bermarkas di Santiago Bernabeu itu Madrid bahkan juga membukukan sukses meraih lima kali juara pada lima musim berturut-turut yaitu pada tahun 1956, 1957, 1958, 1959 dan 1960.

AC Milan
Inilah pesaing serius Madrid dalam urusan gelar juara Liga Champions. Milan telah mengoleksi tujuh gelar juara yang diraihnya pada musim 1962-63, 1968-69, 1988-89, 1989-90, 1993-94, 2002-03, dan 2006-07. Mereka kini menjadi kolektor gelar Liga Champions kedua terbanyak.

Liverpool
The Reds merebut gelar juara sebanyak lima kali. Mereka meraihnya pada musim 1976-77, 1977-78, 1980-81, 1983-84, dan 2004-05. Tak heran mereka berhak mengenakan simbol kehormatan tersebut.

Ajax Amsterdam
Di antara klub Belanda yang pernah berlaga di Liga Champions, boleh dibilang tim Ajax Amsterdam adalah klub yang paling sukses. Tiga gelar berhasil mereka raih selama tiga musim berturut-turut, yaitu musim 1970-71, 1971-72, dan 1972-73. Prestasi ini membuat mereka diberi kehormatan mengenakan Badge of Honour oleh UEFA. Namun jumlah raihan gelar Ajax sekarang empat. Mereka berhasil menambahnya menjadi empat pada tahun 1994-95 dengan mengalahkan AC Milan di partai puncak.

Bayern Muenchen
Bayern memang belum mengoleksi lima gelar juara. Sekarang mereka baru mengumpulkan empat trofi yang direbutnya pada musim 1973-74, 1974-75, 1975-76, dan 2000-01. Namun karena pernah merebutnya selama tiga kali beruntun pada tahun 1974 hingga 1976, kostum FC Hollywood kini dihiasi Badge of Honour.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pencarian

Translate