Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in

ARSIP

Tampilkan postingan dengan label Tragedi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tragedi. Tampilkan semua postingan

MISTERI KEMATIAN SI MANUSIA KERTAS

Rabu, 06 Februari 2013


Sosok Matthias Sindelar merupakan salah satu fenomena di sepak bola. Dia merupakan salah satu pilar Austria pada era 1930-an. Dialah kapten Wunderteam - julukan Austria - yang melaju ke semifinal Piala Dunia 1934.

Pemain berjuluk Der Papierene atau Si Manusia Kertas punya kelebihan dalam kemampuan melakukan dribble dan kreativitas. Oleh International Federation of Football History and Statistics (IFFHS), dia terpilih sebagai Pemain Terbaik Austria pada Abad ke-20.

Sindelar tampil membela panji Austria dalam 43 pertandingan resmi antara 28 September 1926 hingga 19 September 1937 dengan mencetak 26 gol.

Sejumlah penghargaan individu juga didapatkan mantan penyerang yang punya julukan lain "Mozart-nya Sepak Bola". Satu gelar Liga Austria dan lima Piala Austria diraih mantan pemain Austria Vienna itu.

Aneksasi yang dilakukan Jerman membuat Austria kehilangan independensi sebagai sebuah tim nasional. Pada laga terakhir sebagai sebuah timnas pada 3 April 1938, Sindelar diberitakan merayakan gol di hadapan para petinggi Nazi.

RIP  Matthias Sindelar

Sikap keras Sindelar yang menolak membela Jerman usai aneksasi itu berbuntut panjang. Sejumlah berita menyebutkan penolakan itu menjadi penyebab utama sosok kelahiran 10 Februari 1903 itu menemuai ajalnya.

Pada 23 Januari 1939, Sindelar dan pacarnya, Camilla Castagnola, ditemukan meninggal di apartemennya di Viena. Dari hasil diagnosis, di tubuh mereka ditemukan kadan karbon monoksida yang berlebih.

Sumber: duniasoccer.com

TRAGEDI STADION AYRESOME PARK


Sudah lebih 33 tahun sejak tragedi runtuhnya sebagian area stadion Middlesbrough, Ayresome Park. Insiden ini menewaskan dua orang dan menjadi permulaan "tren buruk" stadion-stadion bola dalam dekade selanjutnya.

Pemegang tiket musiman, Irene dan Norman Roxby, tengah menuju pintu keluar stadion melalui pintu keluar South East usai laga imbang 1-1 dengan Manchester United ketika sejumlah pilar batu hancur dan merubuhkan dua gerbang. Irene dan Norman pun tertimpa reruntuhan puing, nyawa mereka tak terselamatkan.

Sejumlah saksi dalam insiden menyedihkan itu menyalahkan sekelompok suporter tandang Manchester United. Mereka mengatakan suporter The Red Devils bergegas menuju gerbang setelah laga, memicu runtuhnya pilarnya. Dalam pembelaannya, para suporter Man.United mengklaim bergegasnya mereka menuju gerbang dipicu oleh usaha untuk menghindari kuda-kuda polisi yang beringas.

Laporan selanjutnya mengungkapkan bahwa sertifikat keamanan stadion Middlesborough itu belum diperbarui. Kendati begitu, pihak klub mengklaim semua persyaratan keamanan sudah dipenuhi dalam laga tersebut. 

Meninggalnya duo Roxby itu secara menyedihkan disusul dengan insiden-insiden duka dari dalam stadion beberapa tahun berikutnya. Termasuk, tragedi Lenin Stadium pada 1982 yang menewaskan lebih dari 300 jiwa, tragedi Valley Parade pada 1985, tragedi Heysel pada 1985, dan Hillsborough pada 1989.

Stadion Ayresome sendiri akhirnya dibongkar pada 1997. Lokasi bekas stadium itu saat ini menjadi area perumahan. Untuk mengenang stadion tersebut, gerbang Ayresome Park didirikan di luar pintu masuk utama ke stadion baru klub, Riverside.

sumber: duniasoccer.com

MENINGGALNYA PENJAGA GAWANG ROBERT ENKE

Minggu, 30 Desember 2012


Pada 10 November 2009 silam, sepak bola Jerman mendapat berita duka cita. Penjaga gawang yang sempat mencicipi seragam Der Panzer, Robert Enke meninggal dunia.

Kronologis kematian mantan penjaga gawang Hannover ini pun cukup ironis. Dengan kecepatan 160 kilometer per jam, sebuah kereta api jurusan Hamburg-Bremen menabrak sang pemain.

Diduga kuat, Enke sengaja untuk membiarkan nyawanya melayang. Penyebabnya adalah wafatnya sang kakak perempuan Enke 2006 silam. Terlebih, pihak kepolisian menemukan sebuah surat wasiat, yang tak dibeberkan isinya.

Karier internasional Enke sejatinya cukup cemerlang. Pada medio 2000-an awal, dirinya memang masih menjadi opsi setelah Oliver Kahn dan Jens Lehmann.

Saat Lehmann gantung sepatu pada 2008, Enke lantas diproyeksikan sebagai penjaga gawang utama. Sayang, peristiwa ini terpaksa mengubur skenario Enke sebagai penjaga gawang timnas Jerman pada Piala Dunia 2010. (duniasoccer)

TRAGEDI TIMNAS ZAMBIA 1993

Sabtu, 13 Oktober 2012



Tanggal ini akan selalu diingat oleh publik sepak bola Zambia. Dikenang sebagai bagian terkelam dalam sejarah persepakbolaan Negara di selatan Afrika itu.

Selasa, 27 April 1993. Sebanyak 18 pemain timnas Zambia beserta pelatih Godfrey Chitalu dan asistennya Alex Chola berangkat menuju Dakar guna melakoni laga Pra-Piala Dunia 1994 meladeni tuan rumah Senegal. Mereka berangkat dari Lusaka pada selasa malam menggunakan pesawat militer dengan nomor penerbangan AF-319.


Menuju Senegal, pesawat  itu dijadwalkan melakukan dua kali pengisian bensin. Di Kongo, kerusakan mesin sebetulnya sudah bisa terdeteksi. Tapi, pesawat tetap dipaksakan terbang. Usai pengisian kedua di Libreville, Gabon, satu mesin pesawat terbakar. Pilot yang kelelahan lantaran baru pada Selasa pagi pulang dari Mauritius, tak kuasa mengendalikan pesawat. Gagal lepas landas, pesawat langsung menghantamkan laut dan menewaskan 30 orang penumpangnya.


Untuk mengenang kejadian ini, pemerintah Zambia mendirikan monumen di Lusaka dengan berisikan nama-nama korban tragedi tersebut.

TRAGEDI MUNICH 1958

Selasa, 09 Oktober 2012


Tragedi Muenchen terjadi di bandar udara Munich-Riem, München, Jerman pada tanggal 6 Februari 1958. Kecelakaan terjadi ketika British European Airways Penerbangan 609 jatuh pada usaha ketiganya untuk lepas landas dari kubangan lumpur yang menyelimuti landasan. Di dalam pesawat terdapat para pemain Manchester United yang bersinar kala itu , dijuluki "Busby Babes", bersama dengan sejumlah pendukung dan wartawan. 20 dari 44 orang di pesawat tewas dalam kecelakaan. Yang terluka, beberapa di antaranya sudah tak sadarkan diri, dibawa ke Rumah Sakit Rechts der Isar di Munich di mana 3 orang meninggal, sehingga yang selamat hanya 21 orang. 

Tim dalam perjalanan kembali dari sebuah pertandingan Piala Eropa 1957-1958 di Beograd, Yugoslavia, melawan Red Star Belgrade, tetapi harus berhenti di Munich untuk mengisi bahan bakar, sebagai akibat dari perjalanan non-stop Belgrade ke Manchester, yang di luar batas kemampuan jangkauan pesawat sekelas Airspeed Ambassador. Setelah mengisi bahan bakar, sang pilot, Kapten James Thain dan kopilot Kenneth Rayment, mencoba lepas landas maksimal dua kali, tetapi harus membatalkan kedua upaya tersebut karena gangguan di mesin. Takut bahwa mereka akan terlambat jadwal, Kapten Thain menolak menginap di Munich dan memilih melakukan upaya lepas landas untuk ketiga kalinya.


Pada saat upaya ketiga, mulai turun salju, menyebabkan lapisan lumpur di ujung landasan. Ketika pesawat menyentuh lumpur, pesawat kehilangan kecepatan, membuat pesawat tidak dapat lepas landas. Pesawat menabrak pagar dan melewati ujung landasan, sebelum sayap pesawat membentur rumah terdekat sehingga sobek. Khawatir bahwa pesawat akan meledak, Kapten Thain menyuruh para penumpang yang selamat pergi menjauh sejauh mungkin. Meskipun demikian, kiper Manchester United Harry Gregg tetap di dekat bangkai pesawat untuk menarik korban yang selamat dari reruntuhan pesawat.

Sebuah penyelidikan oleh pihak berwenang bandara Jerman Barat awalnya menyalahkan Kapten Thain untuk kecelakaan tersebut, mengklaim bahwa dia telah gagal untuk menghilangkan es yang membeku pada sayap pesawat, yang dianggap sebagai penyebab kecelakaan, meskipun pernyataan yang bertentangan muncul dari para saksi mata. Kemudian ditetapkan bahwa kecelakaan itu, pada kenyataannya, disebabkan oleh kubangan lumpur campur salju di landasan pacu, yang mengakibatkan pesawat yang tidak mampu mencapai kecepatan minimum untuk lepas landas. Nama Thain akhirnya menghilang pada tahun 1968, sepuluh tahun setelah kejadian.


Tragedi tersebut menjadi bencana paling kelam dalam sejarah MU. Maka, MU selalu mengenangnya. Dan, 6 Februari 2008 lalu adalah tepat 50 tahun bencana yang sering disebut Tragedi Munich itu.

Itu juga menjadi tragedi nasional bagi Inggris. Maka, pada pertandingan persahabatan antara timnas Inggris lawan Swiss di Wembley, 6 Februari 2008, semua pemain menyempatkan hening sejenak mengenang para korban kecelakaan itu, sekaligus mengirim doa.

Namun, kontroversi sempat merebak kala MU melawan rival sekota Manchester City pada 10 Februari 2008. MU meminta semua hening semenit untuk mengenang tragedi itu, tapi sebagian suporter Man. City menolak dan mengancam akan mengganggu.6 Februari 1958.

Yang pasti, tragedi itu menjadi mimpi terburuk MU. Maka, klub itu membuat acara meriah pada peringatan 50 tahun Tragedi Munich. Gambar tim Busby Babes menghiasi Stadion Old Trafford. Berbagai selamatan juga dilakukan.

Untuk mengenang peristiwa ini maka dibuat plakat dan jam yang menunjukkan waktu kejadian tragedi tersebut.


Para Korban yang Tewas

  • Kaptain Kenneth "Ken" Rayment, kopilot (selamat dari kejadian tetapi mengalami cedera parah dan meninggal tiga minggu setelahnya di rumah sakit setelah mengalami gegar otak)
  • Tom Cable, pramugara
  • Geoff Bent
  • Roger Byrne
  • Eddie Colman
  • Duncan Edwards (selamat dari kecelakaan, tapi meninggal 15 hari kemudian)
  • Mark Jones
  • David Pegg
  • Tommy Taylor
  • Liam "Billy" Whelan
  • Walter Crickmer, sekretari klub
  • Tom Curry, trainer
  • Bert Whalley, kepala pelatih
Wartawan dan Jurnalis
  • Alf Clarke, Manchester Evening Chronicle
  • Donny Davies, Manchester Guardian
  • George Follows, Daily Herald
  • Tom Jackson, Manchester Evening News
  • Archie Ledbrooke, Daily Mirror
  • Henry Rose, Daily Express
  • Frank Swift, News of the World (juga mantan kiper Inggris dan Manchester City; meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit)
  • Eric Thompson, Daily Mail
Penumpang lain
  • Bela Miklos, agen perjalanan
  • Willie Satinoff, supporter, dan teman dekat Matt Busby

TRAGEDI HILLSBOROUGH

Jumat, 21 September 2012


15 April (1989) akan selalu menjadi hari yang emosional bagi seluruh supporter Liverpool FC di seluruh dunia. Salah satu tragedi kelam yang “menodai” perjalanan sebuah klub sepak bola tersukses di daratan Inggris, Sebuah tragedi yang menyisakan kontroversi hingga sekarang. Sebuah tragedi yang dikemudian hari akan mengubah dan menjadi landasan akan lahirnya peraturan soal standar keamanan stadion sepak bola.

Kejadian ini berawal dari sekitar 15.000 suporter travelling fans berangkat lebih awal dari Liverpool dan berbondong-bondong menuju stadion Hillsborough, Sheffield. Mereka datang guna mendukung Liverpool yang akan segera menjalani partai semifinal piala FA 1989 menghadapi Nottingham Forest. Sabtu pagi yang cerah membawa atmosfer yang bagus dan semangat menggelora ditunjukkan para suporter untuk. Mereka tak mempedulikan bagaimana cara mereka datang ke Sheffield. 

Apakah menggunakan bus atau kereta api.  mendukung Liverpool. Yang pasti semua supporter menggambarkan hari sabtu itu seperti hari karnaval. Hari itu, semua jiwa bersatu untuk mendukung Liverpool. Namun nampaknya semua akan berubah hanya dalam 1 jam saja. Liverpool pada saat itu diprediksikan akan dapat mengalahkan Nottingham Forest yang menjadi pesakitan tahun sebelumnya di tempat yang sama. Tiket pertandingan di Hillsborough yang biasanya tidak terjual habis, khusus hari itu, Liverpool yang menjadi alasan tiket terjual habis. 


Namun kacaunya panitia tidak memperhitungkan jumlah fans Liverpool yang datang dengan tempat di mana supporter Liverpool kelak ditempatkan. Tempat di mana akan menjadi saksi sejarah tragedi sepakbola terbesar di Inggris. “ ladang kematian“ bernama " The Lapping Lane ". Panitia mengalokasikan kapasitas tempat untuk 14.000 ribu tribun berdiri di lapping lane yang notabene satu-satunya tribun kecil di sana. Yang lebih tidak masuk akal lagi, Polisi memilih memilih Spion Kop End yang memuat sekitar 21.000 orang untuk menampung supporter Nottingham. Logikanya, Daya tarik pertandingan tersebut ditujukkan untuk fans Liverpool, namun polisi lebih memilih " mengamakan " suporter Nottingham. Otomatis, salah persepsi para petugas keamana dan panitia setempat menjadi awal bencanannya. Suporter datang dengan jumlah yg sangat besar.

The Lapping lane hanya mampu memuat sekitar 14,600 orang namun hari itu jumlah suporter yang datang sudah di luar perkiraan. Pukul 2 pm para suporter kedua belah kubu mulai berdatangan dalam jumlah besar dengan kawalan polisi berkuda setempat. 

Suasana Di Gate C
Kerumunan supporter menjadi alasan polisi setempat memperketat keamanan di sekitar stadion dan mengambil alih pengawasan para suporter. Pukul 2.30 pm , kerumunan sekitar pagar masuk semakin meluap saat turnstile (pintu masuk berputar) dibuka. Aliran supporter Liverpool dengan jumlah besar masuk bagaikan longsoran manusia dan segera menempati tribun tersebut. Bisa dibayangkan 10.000 orang mengalir masuk ke dalam The Lapping Lane dengan hanya menyediakan 3 gerbang masuk dan 7 pintu masuk putar. Dipastikan ini sangat tidak kemanusiawian yang dapat mendeskripsikan keadaan saat itu dengan keadaan stadion yang penuh sesak dan pengap. Suporter Liverpool yang masih tertinggal diluar sekitar 2000-5000 orang berusaha merengsek masuk ke dalam stadion. diantaranya tanpa tiket. 

Menurut pengakuan petugas keamanan yang bertugas di luar stadion mengganggap desakan para supporter Liverpool masuk ke dalam stadion disebabkan karena banyak dari mereka yang dalam pengaruh alkohol dalam jumlah besar. Hal tersebut yang menjadi acuan utama para penyelidik untuk mengamati kronologi kejadian tersebut dan sebagai barang bukti utamanya. Namun pada akhirnya semuanya akan dibantah dan sangat tidak rasional saat semua suporter yg sangat antusias dituduh dalam pengaruh alkohol. Lanjut ke TKP, mendengar volume manusia yang berusaha masuk kedalam stadion semakin menggila dan untuk mengantisipasi jatuhnya korban, Inspektur Marshal di sana yang hari itu bertugas,David Duckenfield memerintahakn untuk membuka gerbang C dimana sektor 3 dan 4 berada. Sektor 3 dan 4 yang saat itu sudah penuh sesak dengan fans yang sudah berada di dalamnya sebelumnya. Akibatnya " Fatal Crush " terjadi.

Duckenfield

Sebelum Duckenfield mampu memerintahkan official untuk menunda kick off, Aliran manusia dalam jumlah besar masuk tanpa mampu dihentikan. .Aliran manusia mengalir deras masuk ke gerbang C dan memenuhi blok tiga dan empat yang sudah dipenuhi oleh fans sebelumnya. Para supporter yang berada di kedua blok tersebut terdesak ke depan dan terjempit di antara pagar pembatas “ ladang kematian “ tersebut. Keputusan Duckenfield untuk membuka gerbang C sangat fatal akibatnya. Keputusan dia sangat terburu-buru. Logikanya. Seharusnya sebelum Duckenfield memutuskan untuk membuka gerbang C, dia harus meminta konfirmasi petugas yang berada di blok 3 dan 4 apakah kedua blok tersebut mampu menampung tambahan supporter atau tidak, namun semuanya terlambat.

Akibatnya 96 fans Liverpool tewas terjepit, terinjak dan kehabisan oksigen di dalam ladang kematian tersebut. Rincian korbannya: 89 suporter pria dan 7 perempuan meninggal di tempat kejadian dan saat di bawa ke hospital.Sepertiga dari korban meninggal berumur 20 tahun. Korban termuda adalah seorang anak laki-laki berumur 10 tahun bernama Jon Paul Gihooley yang merupakan sepupu Steven Gerrard. Korban meninggal banyak ditemukan di blok 3 dan korban injury banyak di temukan di sektor 3 dan sebagian sektor 4. Sekitar 730 di dalam dan 36 suporter di luar stadion menderita cedera ringan hingga parah seperti brain malfunction(kekurangan oksigen). Kisah memilukan terjadi kepada salah satu korban yang terakhir meninggal, Tony Bland. 

Tony Bland merupakan korban selamat yang meninggal 3 tahun setelah kejadian. Dia mengalami kerusakan otak parah akibat kekurangan oksigen saat terjepit diantara para fans. Tony Bland mengalami kerusakan otak yang memaksa dia hidup dalam setengah koma selama 3 tahun di rumah sakit. Pada 3 March 1993 dia meninggal di hospital atas kesepakatam pihak keluarganya dan para doktor melalui cara " dipaksa meninggal " dan dia menjadi korban meninggal yang ke 96 dalam tragedy tersebut. Dia merupakan pasien pertama di Inggris yang diperbolehkan meninggal oleh hukum Inggris. Dia meninggal dengan cara asupan gizinya dihentikan

Kegagalan polisi dalam mengontrol laju aliran para supporter dinilai sebagai penyebab utama tragedi tersebut. Penyilidkan mengenai penyebab2 tragedi Hillsborough terjadi segera dilakukan oleh kepolisian Inggris. Sampai keluar hasil penyelidikan yg disebut " Taylor Inquiry ". Taylor Inquiry adalah hasil penyelidikan yg diputuskan oleh hakim Taylor. Sampai keluar hasil penyelidikan yg disebut " Taylor Inquiry ". Taylor Inquiry adalah hasil penyelidikan yg diputuskan oleh hakim Taylor
1.              Kegagalan polisi untuk mencegah dan memotong aliran manusia di Gerbang C sesaat sebelum kejadian
2.              Sektor 3 dan 4 nyatanya telah penuh sebelum aliran tambahan manusia dari gerbang C masuk
3.             Ukuran pintu masuk di gerbang parimeter terlalu kecil menyebabkan usaha penyelamatan terhambat yg menyebabkan banyak korban tewas. Gerbang C nyatanya gerbang yang diperuntukka sebagai pintu keluar stadion. So, alasan membuka gerbang C karena untuk menghindari tragedi sangatlah tidak diperkenankan dalam situasi tersebut.


Akibat dari tragedi Hillsborough ini, tribun berdiri di seluruh stadion di Inggris tidak boleh diperkenankan lagi. Nah dari situlah, The Kop End Classic harus diruntuhkan dan digantikan tribun yang lebih layak. Citra buruk suporter mulai menguat sesudah tragedi Hillsborough terjadi, pelakunya The Sun yang menurunkan 3 subjudul kontroversi. Beberapa jam setelah tragedi terjadi, The Sun menurunkan sebuah headline controversial dengan 3 subjudul berita yang benar-benar menghancurkan hati para keluarga korban, di saat seharusnya mereka membaca berita yg bisa menghilangkan kesedihan serta trauma yg mendalam. 3 subjudul tersebut berisikan 3 tuduhan pewarta The Sun yang " katanya " menyaksikan langsung kejadian tersebut. Isinya:

1.            Fans Liverpool mengencingi para polisi yang sedang bertugas
2.            Beberapa fans Liverpool menguntili barang-barang milik korban
3.            Beberapa fans Liverpool menghalangi para petugas medis untuk memberikan pertolongan kepada korban.

Ketiga subjudul tersebut memojokkan para suporter Liverpool dan melukai keluarga para korban meninggal di Hillsborough dan membuat marah semua yang merasa terkait dengan tragedy tersebut. Orang yang menurunkan headline tersebut yang merupakan editor The Sun sendiri adalah Kevin MacKenzie. Saat itu juga The Sun diboikot sama warga satu kota Liverpool dan menjadi media baca yang diharamkan di kota Liverpool dan sekitarnya. 3 bulan setelah kejadian headline itu, editor biadab The Sun, Kelvin MacKenzie mengaku terjadi kesalahan terhadap 3 sub judul tersebut. 


Namun nasi sudah menjadi bubur dan non sense juga judul itu mereka klaim terdapat kekeliruan di dalam headline tersebut namun sepertinya respon tersebut hanya digunakan mereka sebagai alasan untuk menghilangkan jejak dari kasus ini. Si Kelvin hanya meminta maaf secara personal saja, The Sun-nya pun masih menganggap mereka tak bersalah yang membuat fans Liverpool geram. 15 tahun kemudian tepat 7 Juli 2004.  The Sun akhirnya meminta maaf keseluruh keluaraga para korban dan masyarakat Liverpool atas headline kontorvesial tersebut . Permintaan maaf terbuka The Sun sama sekali tidak direspon oleh para keluarga korban dan fans LFC, mereka tetap menganggap the Sun " haram "haram"haram.

Untuk mengenang para korban, Masyarakat Inggris nyatanya punya bentuk empati yang sangat besar. Sebagai bentuk belasungkawa mereka, beberapa monumen peringatan tragedi Hillsborough dibuat beberapa tahun setelah kejadian tersebut antara lain:

1.            Dua obor api di lambang Liverpool ini untuk melambangkan ke 96 korban meninggal di Hillsborough
2.            Monumen yang berisikan nama-nama para korban tragedi Hillsborough di samping Shanklu Gate
3.            Sebuah batu pahatan di katredal anglican Liverpool yang berisikan tulisan " Hillsborough, YNWA "
4.            Batu nisan yang bertuliskan ucapan bela sungkawa di persimpangan jalan antara Middlewood Road, Leppings Lane and Wadsley Lane

Selain itu juga setiap tanggal 15 April - hari di mana tragedi tersebut terjadi, fans Liverpool selalu mengadakan upacara peringatan. Bertempat di Kop Stand, ribuan Liverpudlian selalu bergabung bersama pelatih, staff serta petinggi klub untuk mengenang kembali tragedi tersebut.

Inilah 96 nama brother and sister yang gugur di The Lapping Lane, Hillsborough:

John Alfred Anderson (62), Colin Mark Ashcroft (19), James Gary Aspinall (18), Kester Roger Marcus Ball (16), Gerard Bernard Patrick Baron (67), Simon Bell (17), Barry Sidney Bennett (26), David John Benson (22), David William Birtle (22), Tony Bland (22), Paul David Brady (21), Simon Bell (17), Barry Sidney Bennett (26), David John Benson (22), David William Birtle (22), Tony Bland (22), Paul David Brady (21), Andrew Mark Brookes (26), Carl Brown (18), David Steven Brown (25), Henry Thomas Burke (47), Peter Andrew Burkett (24), Paul William Carlile(19), Gary Christopher Church (19), Joseph Clark (29), Paul Clark (18), Gary Collins (22), Stephen Paul Copoc (20), Tracey Elizabeth Cox (23), James Philip Delaney (19), Christopher Barry Devonside (18), Christopher Edwards (29), Vincent Michael Fitzsimmons (34), Thomas Steven Fox (21), Jon-Paul Gilhooley *Stevie G's cousin (10), Barry Glover (27), Ian Thomas Glover (20), Derrick George Godwin (24), Roy Harry Hamilton (34), Philip Hammond (14), Eric Hankin (33), Gary Harrison (27), Stephen Francis Harrison (31), Peter Andrew Harrison (15), David Hawley (39), James Robert Hennessy (29), Paul Anthony Hewitson (26), Carl Darren Hewitt (17), Nicholas Michael Hewitt (16), Sarah Louise Hicks (19), Victoria Jane Hicks (15), Gordon Rodney Horn (20), Arthur Horrocks (41),Thomas Howard (39), Thomas Anthony Howard (14), Eric George Hughes (42), Alan Johnston (29), Christine Anne Jones (27), Gary Philip Jones(18), Richard Jones (25), Nicholas Peter Joynes(27), Anthony Peter Kelly(29), Michael David Kelly (38), Carl David Lewis (18), David William Mather (19), Brian Christopher Mathews (38), Francis Joseph McAllister (27), John McBrien (18) Marion Hazel McCabe (21), Joseph Daniel McCarthy (21), Peter McDonnell (21), Alan McGlone (28), Keith McGrath (17), Paul Brian Murray (14) ,Lee Nicol (14), Stephen Francis O'Neill (17), Jonathon Owens (18), William Roy Pemberton (23), Carl William Rimmer (21), Graham John Roberts (24), Steven Joseph Robinson (17), Henry Charles Rogers (17), Colin Andrew Hugh William Sefton (23), Inger Shah(38), Paula Ann Smith(26), Adam Edward Spearritt (14), Philip John Steele (15), David Leonard Thomas (23), Patrick John Thompson(35), Peter Reuben Thompson (30), Stuart Paul William Thompson (17), Peter Francis Tootle (21), Christopher James Traynor (26), Martin Kevin Traynor (16), Kevin Tyrrell (15), Colin Wafer (19), Ian David Whelan (19), Martin Kenneth Wild (29), Kevin Daniel Williams (15), Graham John Wright (17).


21 tahun berlalu sejak bencana di Hillsborough, melalui Hillsborough Family Support Group (HFSG) supporter Liverpool terus menuntut keadilan atas meninggalnya 96 anggota keluarga, saudara, teman mereka. Selama hampir dua dekade tanpa kenal lelah HFSG terus mengkampanyekan Hillsborough : JusticeFor96.Misteri Penyebab Tragedi Hillsborough Mulai Terkuak

Misteri penyebab tragedi Hillsborough perlahan mulai terungkap. 
Seperti dilansir BBC, salah seorang polisi senior Marseyside sempat mengatakan bahwa Perdana Menteri Inggris, Margareth Thatcher, menyalahkan sejumlah pendukung Liverpool yang mabuk atas tragedi tersebut.

Sejumlah keluarga korban sebelumnya beberapa kali menuntut agar pemerintah Inggris mengungkap penyebab tragedi  tersebut. Sejauh ini, peristiwa itu dinilai terjadi karena faktor penonton yang melebihi kapasitas Stadion Hillsborough, Shiefflied.

Stadion berkapasitas hampir 40.000 kursi itu hanya menyediakan 14.600 tempat duduk untuk pendukung Liverpool. Akibatnya, kapasitas itu tidak mampu menampung Liverpludlian yang jauh melebihi 14.000. Saat pertandingan baru berjalan beberapa menit, tribun rubuh dan 96 suporter "The Reds" tewas.

BBC yang mengaku telah melihat dokumen rahasia yang bocor dari pemerintah tersebut, mengatakan bahwa seseorang polisi senior di Merseyside telah mengirimkan surat kepada PM Margareth Thatcher empat hari setelah peristiwa itu berlangsung. Dalam surat itu, sang polisi menyebutkan bahwa sejumlah pendukung Liverpool menyalahi aturan.


"Salah satu faktor yang menyebabkan tragedi itu adalah ada fakta bahwa sejumlah pendukung Liverpool tidak memiliki tiket. Inilah yang hilang, ketika mulai menyalahkan polisi, otoritas sepak bola dan sebagainya," tulis dokumen tersebut.

Selain itu, salah satu oknum polisi yang tidak ingin disebutkan namanya juga menyalahkan sejumlah pendukung Liverpool. Menurut oknum polisi itu, sejumlah pendukung Liverpool banyak yang mabuk saat menonton pertandingan tersebut.

"Seorang polisi yang dilahirkan dan besar di Liverpool merasa malu untuk mengatakan bahwa pendukung Liverpool yang mabuk menjadi penyebab terjadinya tragedi itu. Hal ini juga terjadi pada tragedi Heysel," tambahnya.

Dokumen Tragedi Hillsborough Dipublikasikan
Ribuan dokumen resmi yang terkait dengan bencana sepak bola Hillsborough 1989 di Inggris, Rabu (12/9/2012), dibuka untuk publik. Tragedi yang menewaskan 96 penggemar Liverpool tersebut mengungkap beberapa fakta yang cukup mengagetkan. Salah satunya, polisi melakukan kesalahan kontrol yang ikut menyebabkan tragedi itu.

Tragedi terjadi pada 15 April 1989, di semifinal Piala FA antara Liverpool dan Nottingham Forest. Salah satu tribun Stadion Hillsborough yang disebut Leppings Lane runtuh. Stadion itu dimiliki klub Sheffield Wednesday di Yorkshire, utara Inggris.

Beberapa anggota keluarga korban berharap dokumen-dokumen itu akan memberi titik terang mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Dokumen-dokumen tersebut didapat dari arsip-arsip milik 80 organisasi, termasuk Pemerintah Inggris, Kepolisian Yorkshire Selatan, Dewan Kota Sheffield, pemeriksa mayat Yorkshire Selatan, serta pemadam kebakaran dan rumah sakit.

Monumen Hillsborough

Dokumen-dokumen pemerintah biasanya tidak dipublikasikan di Inggris sebelum berumur 30 tahun. Namun, pada sidang parlemen Agustus tahun lalu, hal itu disetujui untuk dipublikasikan tanpa menyensor pengungkapan semua dokumen yang berkaitan dengan tragedi tersebut. Keputusan itu diambil setelah lebih dari 100.000 orang menandatangani petisi pemerintah via internet. Ini memicu perdebatan di parlemen mengenai publikasi berkas-berkas mengenai bencana itu. Petisi via internet itu saat ini sudah ditandatangani oleh lebih dari 156.000 orang.

Keluarga korban sebagai pihak pertama yang mendapat akses terhadap lebih dari 400.000 halaman dokumen tersebut. Panel Independen Hillsborough yang mengawasi proses tersebut memublikasikan laporan yang menjelaskan muatan dokumen-dokumen itu.

Laporan yang dibuat oleh kepala peradilan, Peter Taylor, yang dipublikasikan pada 1990, menunjukkan bahwa penyebab utama bencana tersebut adalah kegagalan polisi dalam mengontrol situasi. Sebelumnya, polisi menyalahkan suporter mabuk sebagai biang tragedi.

Para keluarga korban mengatakan tidak adil bahwa tidak ada satu pun individu atau organisasi yang bertanggung jawab penuh terhadap tragedi itu. Mereka menyebut kepolisian lokal gagal menerapkan rencana darurat. Para suporter Liverpool di Leppings Lane juga ditolak saat meminta perawatan medis.

"Kami menginginkan tanggung jawab terhadap 96 nyawa," kata Margaret Aspinall, orangtua James, salah satu korban meninggal, saat diwawancarai BBC.

"Mudah-mudahan ini akan menjadi hari yang baik bagi kota ini, bagi para penggemar. Mudah-mudahan kami mendapat apa yang mestinya kami dapatkan 23 tahun silam," tambah Aspinall, Ketua Grup Pendukung Keluarga Hillsborough.

Mantan Editor "The Sun" Minta Maaf soal Tragedi Hillsborough
Tabloid The Sun, milik raja media, Rupert Murdoch, menyampaikan permintaan maafnya terkait Tragedi Hillsborough. Permintaan maaf itu berkaitan dengan artikel The Sun berjudul "The Truth", yang berisi tuduhan yang salah terhadap perilaku fans "The Reds" sebelum, selama, dan setelah musibah tersebut.

Hal ini diungkapkan The Sun, setelah sebuah panel independen berhasil menguak misteri tragedi Hillsborough dengan merilis dokumen setebal 400.000 halaman, pada Rabu (12/9/2012). Dokumen itu disusun untuk mengungkap fakta kematian puluhan suporter sepak bola pada pertandingan semifinal Piala FA antara Liverpool dan Notthingham Forest, 15 April 1989.

Kelvin MacKenzie, editor yang menuliskan artikel tersebut, mengaku telah "disesatkan". Maklum saja, dalam dokumen milik panel independen Hillsborough, disebutkan bahwa polisi South Yorkshire menyuplai informasi yang salah kepada wakil politisi Konservatif, Irvine Patnick, yang menjadi narasumber berita di tabloidnya.

"Hari ini, saya ini meminta maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat di Liverpool mengenai judul itu," ujar MacKenzie.

"(tragedi) ini telah terjadi hampir dua dekade. 400.000 halaman dokumen, dan dua tahun penyelidikan itu membuat saya sangat ngeri. Mungkin lebih akurat, jika saya menuliskan kalimat 'The Lies' daripada 'The Truth' di judul," tambahnya.

"Saya menerbitkan artikel itu dengan iktikad baik, dan saya meminta maaf jika telah melakukan sebuah kesalahan," lanjut MacKenzie, yang merupakan editor The Sun periode 1981 hingga 1994 itu.

MacKenzie membenarkan bahwa dirinya mendapat informasi itu dari salah satu kantor berita lokal di Sheffield. Sementara pernyataan yang salah dalam artikelnya itu diperoleh dari informasi seorang polisi senior dan seorang anggota Parlemen.

"Saya sama sekali tidak memiliki alasan untuk percaya bahwa figur seperti mereka dapat berbohong dan menipu atas bencana seperti itu," tegas MacKenzie.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pencarian

Translate